Laman

Sabtu, 10 November 2012

perangkap

cari aku di dalam gelembung
tercekal di dinding tipis transparan
menggeram pun tak berguna
sebas, yang pasti tak selalu ada

temukan aku melintasi malam
menunggang perahu yang tak selalu damai
aku mengukir selalu prasasti dambaan
menang, menangkan hatimu yang bercerita dalam diam

biarkan aku menguntai kenangan
yang hanya bisa ku tampilkan
dalam tempat yang pernah kau singgahi
walau aku tak pernah selalu di sampingmu

kau lihat aku
selalu berjalan di tanahmu
yang berisi jejak-jejakmu
sambil bertahan berkhayal melambungkan masa lalu

aku tahu, karena diammu
merupakan bahasa isyaratmu
dari yang tak terbahasakan
dan yang terlalu kau takutkan juga
sampai situ
dan aku tetap terperangkap di dinding yang bulat

Sabtu, 06 Oktober 2012

Mengharap pelipur

kata-kata yang berteriak di jendela
mencoba di himpun angin
tornado yang menyerakkan pasir-pasir
masih tetap utuh di ujung benua
sayangnya lumut-lumut tak tergoda
masih setia di batu mereka
sampai kata-kata itu menua tanpa usia
terompet itu sekali lagi mengibarkan debu-debu
menghunuskan pedang yang berganti bedil
pecahkan para pelopor
kaca itu kedap suara
dan juga kedap suasana
lajulah kereta kalahkan bendi
biar tak tenang dalam hati
tapi sanggup padamkan api-api
hari ini, entah di mana
semoga hati tetap emas.

Mari

waktu malam datang tanpa suara
meninggalkan derap langkah yang menerka
kapan saat itu akan tiba
menyesapkan wangi sedap malam
beranda itu seketika datang
sofa atau kursinya membuat godaan
malam-malam menanti nyawa meregang
saksikan itu.
sekejap itu.
semenakutkan itu.
tak ada kata yang merasainya
ketakutan itu tak terbayang
tancapkan hatimu sedalam mungkin
tercerabut paksa tak akan di rasa
mendambanya
memaknainya
seindah yang di sembuunyikannya
hidup indah ini,
bahkan mampu kau merelakannya.

Bangsri, Jepara. 10 Agustus 2012      21:15

.berikan judul.

kelak, dunia tak lagi berbicara
tertelan pundi-pundi yang bergelimpangan
hoi...
apakah pemuda-pemuda kelak hanya jadi data
tak lagi jadi sesuatu yang nyata
katakanlah kau masih ada
berkelas tinggi budi baiknya
bukan hanya jadi buah busuk saja
hoi....
mengertilah tentang air mata tua itu
air mata yang menetes air mata
berkeluh-keluh juga peluh
terinjak kebaikan yang sudah pasti semu
andai kau bisa berfikir
hoi....
seruanku tak terencana dengan pasti
namun maukah kau mengerti ini
setiap aku bergerak inci demi inci
bisakah tak kau bilang terlalu dini 
prematur katamu nanti
tapi kapan lagi.