kata-kata yang berteriak di jendela
mencoba di himpun angin
tornado yang menyerakkan pasir-pasir
masih tetap utuh di ujung benua
sayangnya lumut-lumut tak tergoda
masih setia di batu mereka
sampai kata-kata itu menua tanpa usia
terompet itu sekali lagi mengibarkan debu-debu
menghunuskan pedang yang berganti bedil
pecahkan para pelopor
kaca itu kedap suara
dan juga kedap suasana
lajulah kereta kalahkan bendi
biar tak tenang dalam hati
tapi sanggup padamkan api-api
hari ini, entah di mana
semoga hati tetap emas.
dalam blog ini, tak ada sesuatupun yang istimewa, hanya kenangan rasa yang tak jua kunjung jadi nyata, gudang rasa dalam setiap inci kata....
Sabtu, 06 Oktober 2012
Mari
waktu malam datang tanpa suara
meninggalkan derap langkah yang menerka
kapan saat itu akan tiba
menyesapkan wangi sedap malam
beranda itu seketika datang
sofa atau kursinya membuat godaan
malam-malam menanti nyawa meregang
saksikan itu.
sekejap itu.
semenakutkan itu.
tak ada kata yang merasainya
ketakutan itu tak terbayang
tancapkan hatimu sedalam mungkin
tercerabut paksa tak akan di rasa
mendambanya
memaknainya
seindah yang di sembuunyikannya
hidup indah ini,
bahkan mampu kau merelakannya.
Bangsri, Jepara. 10 Agustus 2012 21:15
meninggalkan derap langkah yang menerka
kapan saat itu akan tiba
menyesapkan wangi sedap malam
beranda itu seketika datang
sofa atau kursinya membuat godaan
malam-malam menanti nyawa meregang
saksikan itu.
sekejap itu.
semenakutkan itu.
tak ada kata yang merasainya
ketakutan itu tak terbayang
tancapkan hatimu sedalam mungkin
tercerabut paksa tak akan di rasa
mendambanya
memaknainya
seindah yang di sembuunyikannya
hidup indah ini,
bahkan mampu kau merelakannya.
Bangsri, Jepara. 10 Agustus 2012 21:15
.berikan judul.
kelak, dunia tak lagi berbicara
tertelan pundi-pundi yang bergelimpangan
hoi...
apakah pemuda-pemuda kelak hanya jadi data
tak lagi jadi sesuatu yang nyata
katakanlah kau masih ada
berkelas tinggi budi baiknya
bukan hanya jadi buah busuk saja
hoi....
mengertilah tentang air mata tua itu
air mata yang menetes air mata
berkeluh-keluh juga peluh
terinjak kebaikan yang sudah pasti semu
andai kau bisa berfikir
hoi....
seruanku tak terencana dengan pasti
namun maukah kau mengerti ini
setiap aku bergerak inci demi inci
bisakah tak kau bilang terlalu dini
prematur katamu nanti
tapi kapan lagi.
Langganan:
Postingan (Atom)