Laman

Kamis, 09 September 2010

kenangan yang tersesali

-malamku sepi dari nyaman.
sujudku sepi dari air mata.
hatiku sepi dari air surga.
lidahku sepi dari guyuran dzikir.
tawaku sepi dari bersyukur.

-hendaknya KAU angkat diriku.
tak KAU pijakkan di bumi ini.
agar aku tak terlena dengannya.
namun aku tatap mataNYA.
dan seketika aku tak berdaya.

-aku telah mati rasa, dari sentuhan ajakanmu.
aku tenggelam dalam skejapnya duniamu.
aku berkabung atas belas kasihmu.
oh, sungguh tak bergunanya aku ini.
mengatakan kenyataan yang menyedihkan hatiMU.
membuatMu menjauh dari eranganku.
sekejap pun Kau tak sudi.
maafkan aku...
meskipun tak akan Kau tanggapi.
tapi aku masih berharap.
hanya mengharap yang tak berlabuh.
dukaku kini seterang tawaku dulu.
tawaku yang manjauhkanmu.
maafkan aku...
maafkan aku...

Senin, 06 September 2010

jeritan tak tertahankan

-duniaku semakin jauh dariku. aku bingung dengan apa yang ku alami. aku selalu bertanya-tanya, karena aku tak mengenal sedikitpun tentang dunia ini.
cahaya terang itu membangunkan mataku yang terlelap. aku kaget namun gembira. inikah cahaya itu?. aku tunggu setelah sekian lamanya berkecimpung dalam duniaku yang gelap , akhirnya dunia lain tersenyum padaku. dunia yang di terangi cahaya, dimana semuanya tampak jelas bagiku. tak ada lagi kepura-puraan yang bersembunyi. seolah aku sedang dibangunkan untuk pertama kalinya. aku merasa begitu terbang, terasa lepas semua kegelapan dari setiap inci tubuhku. ku lepaskan jubah hitam yang pekat dan berat. aku meloncat meraih seragam cahaya yang ringan. aku sambut dengan gembira kebebasan pertamaku..

-dunia kita berbeda teman, tak usah kau pergi mengejarku. aku jauh di sana di terangnya cahaya.
kau berseberangan denganku, tapi kita tetap berteman kawan.
berusahalah untuk jadi yang terbaik bagi dirimu kawan.
pencerahan lebih awal datang padaku.
aku gembira...

-terlepas dari itu semua, aku hanyalah orang asing sekarang.
bagiku yang dulu, dan juga yang ku jalani....

Sabtu, 04 September 2010

kenangan kembali masuk dalam pikiranku

semenjak aku dapat mengingat. aku tak tahu apa yang aku sedang lakukan kala itu. diriku seperti tubuh kosong tanpa kehendak. hanya berpacu dengan jantung untuk melanjutkan hidup. tanpa tujuan dan harapan. semua yang ku lalui hanya mengalir dengan derasnya tanpa ada suatupun yang menghalanginya. hidupku dalam ikatan jasad ini, hanya permainan perasaan tanpa kepuasan. rasaku tersangkut jauh di masa lalu, dan tak mungkin lagi dapat ku tarik kembali. aku hidup dalam kekurangan rasa, dan kekeringan jiwa. hanya rohaniku yang mulai di sirami dengan doktrin-doktrin yang menurut mereka benar. aku juga hanya seperti botol kosong yang menerima apa saja dalam kapasitasnya sebagai botol. jika penuh, maka meluberlah. catatan atau semacamnya itu tak penting lagi bagiku. karena semuanya mengalir deras tanpa terbendung oleh kata-kata. aku bergerak hanya jika ada air yang mengaliri tubuhku saja. seperti generator air, yang tak akan menyala jika tidak di pasang di aliran air yang deras. angin yang lalu lalang juga hanya ku perhatikan saja. tanpa ada rasa terbang di dalamnya. aku kadang iri pada burung yang terbang di langit dengan bebasnya. tapi aku hanyalah tubuh tanpa rasa. kekeringan jiwa menjadi sebuah klise panjang yang aku jalani. terima atau tidak, hidupku memang seperti adanya daun kering. terombang ambing oleh angin. di putuskan induknya lagi karena tidak berguna. jatuh ke tanah menjadi humus. atau terbakar matahari dan menjadi abu yang beterbangan. sejarah yang ku alami, begitu sangat tidak berharga. sehingga untuk mengingatnya lagi pun aku sangat malas. jangankan berusaha mengingatnya, terlintas pun menjadi sebuah larangan bagi keindahannya. mimpiku hanya menjadi sebuah mutiara yang terpendam dalam di kubangan lumpur yang mulai mengeras karena tidak ada air satu tetespun.

ceritaku hanya tidak berharga satu jengkalpun,

Minggu, 29 Agustus 2010

aku berikan sekeping hatiku padamu

-selama kau tak melupakanku,
aku akan selalu mendampingimu.
walau berpisahnya waktu itu terbentang jauh...
hatiku di sana....
bersanding dengan hatimu yang ku sunting.

-sejuta mimpi berkias dalam hening sepi.
terbagi dalam dua gugus.
bersua dalam satu arah.
mimpi ku hanya tentang dirimu.
jauh maupun dekat adanya kamu.
sering ku coba gapaimu dalam tidur ku.
namun hanya bayang mu yang ku genggam.
terasa kosong...
namun ku bahagia hanya dengan adanya kamu dalam mimpiku.

-
siapa lah diriku.
mencintaimu begitu tulus.. mungkin tak jadi realitaku.
sebab.. bulan di kejauhan saja sudah nikmat aku pandangi.
aku tak mau serakah mendendam memilikinya.
begitu naif diriku..
begitu munafik hatiku..
omong kosongnya mulutku..