Laman

Senin, 25 Mei 2020

Singgah

     Seorang anak kecil, berbaju lusuh dan agak kumal berkat pekatnya debu yang menempel di wajahnya. Duduk dibawah atap gedung tua di ujung jalan. Tampaknya seperti bekas terbakar, dan kejadiannya pun sudah bertahun berlalu. Di atas undak-undakan tangga teratas dia mengistirahatkan kakinya. Beristirahat dari sinar panas matahari siang. Jika ingin diungkapkan, maka anak itu terlihat seperti mencari sesuatu. Matanya terlihat memandang ke depan, walau sesekali dia menengok, mengamati sekilas benda-benda di sekelilingnya atau kejadian-kejadian. Tubuh-tubuh pun berlalu lalang di hadapannya, tak menanyakan apa-apa. Dia tak menarik perhatian, dan tak seorang tubuh pun yang mau membagi waktunya.
     Anak kecil itu mengusap keringatnya yang bercampur dengan asap dan polusi dari tapak yang menjejak di jalan. Tak terburu-buru, secara perlahan. Tak terburu berkejaran dengan waktu. Seperti tubuh-tubuh yang melewatinya. Waktu pun hanya melintas dengan diam tanpa melihatnya. Mungkin itulah kekuatan terbesar anak kecil itu. Dia miliknya sendiri, sebelum seseorang menaruh pandangan padanya.
     Gedung tua itu tidak sepi, karena banyak yang menemaninya. Banyak pedagang menyandarkan dagangannya di tubuh gedung tua itu. Tak banyak, hanya lima sampai empat pedagang. Jumlah yang cukup untuk mengusir kesepian, namun tak juga mengundang kebingaran. Hanya beberapa pembeli yang dari waktu ke waktu mampir membelanjakan uangnya. Tak ramai, cukup menghalangi sunyi untuk menghampiri. 
     Anak kecil itu menatapi benda-benda. Tatapan yang menegaskan apa yang dia tahu. Nampaknya dia sudah mengerti nama-namanya. Gerobak, baju, keringat, waktu, baju, celana, air, polusi, debu, mata, telinga, langkah, maju, henti, gelisah, perjalanan, tujuan. Mungkin anak kecil itu juga bertanya-tanya. Untuk apa dia hapal semua nama itu? Karena waktu pun tak tertarik padanya, maka nama-nama itu tak punya makna baginya.
     Helaan nafas yang entah keberapa. Anak kecil itu nampaknya sudah cukup mengisi istirahatnya. Tatapannya pun berubah. Gedung tua, pedagang, tubuh-tubuh, tak lagi berarti. Mengatur tenaga pada kakinya yang juga kecil. Anak kecil itu siap bertolak. Menerjang ruang yang dia tempati. Bersiap untuk mengikat takdir yang dia temui. Matanya seolah berbicara 'Matahari, mari berjuang lagi!'.