Anak kecil itu mengusap keringatnya yang bercampur dengan asap dan polusi dari tapak yang menjejak di jalan. Tak terburu-buru, secara perlahan. Tak terburu berkejaran dengan waktu. Seperti tubuh-tubuh yang melewatinya. Waktu pun hanya melintas dengan diam tanpa melihatnya. Mungkin itulah kekuatan terbesar anak kecil itu. Dia miliknya sendiri, sebelum seseorang menaruh pandangan padanya.
Gedung tua itu tidak sepi, karena banyak yang menemaninya. Banyak pedagang menyandarkan dagangannya di tubuh gedung tua itu. Tak banyak, hanya lima sampai empat pedagang. Jumlah yang cukup untuk mengusir kesepian, namun tak juga mengundang kebingaran. Hanya beberapa pembeli yang dari waktu ke waktu mampir membelanjakan uangnya. Tak ramai, cukup menghalangi sunyi untuk menghampiri.
Anak kecil itu menatapi benda-benda. Tatapan yang menegaskan apa yang dia tahu. Nampaknya dia sudah mengerti nama-namanya. Gerobak, baju, keringat, waktu, baju, celana, air, polusi, debu, mata, telinga, langkah, maju, henti, gelisah, perjalanan, tujuan. Mungkin anak kecil itu juga bertanya-tanya. Untuk apa dia hapal semua nama itu? Karena waktu pun tak tertarik padanya, maka nama-nama itu tak punya makna baginya.
Helaan nafas yang entah keberapa. Anak kecil itu nampaknya sudah cukup mengisi istirahatnya. Tatapannya pun berubah. Gedung tua, pedagang, tubuh-tubuh, tak lagi berarti. Mengatur tenaga pada kakinya yang juga kecil. Anak kecil itu siap bertolak. Menerjang ruang yang dia tempati. Bersiap untuk mengikat takdir yang dia temui. Matanya seolah berbicara 'Matahari, mari berjuang lagi!'.