Berbilang rasa
Aroma tak sambut sukma
Mengejar hunian dalam gunung
Mencerca sahabat pagi
Terkadang kumpulan awan terkepal kau telan
Kelambu kesiangan tak memental
Jar, fajar di dalam embun
Kuseduh tiap malam dalam titikan air rasa
Kejamnya ku cari
Manisnya ku belai
Jeritan alang-alang dan rembulan
Di padang cahaya kalem
Hentakan terkuak tak lewat rongga dada
Hanya jiwa yang tahu nestapa
Bertandur, seraya gila dalam kegilaan
Menghitung beberapa kelenjar amarah yang aku punya
Bagai badai yang memberontak
Petir yang menjerit menyilaukan mata
Dan, guntur yang tak ragu menggetarkan detak jantung
Aku musnah,
Bagai pelita tersiram embun
Jika kau sadar betapa aku rapuh
Melambai ke dalam parit tak berkesudah
Yang, tak terhitung sudah diinjak
Melangkah ke jalan tanpa jejak
Berselimut juntaian benang karma
Melilit, rajut takdir yang kuhela
Sampai jumpa, dunia
Hingga semuanya harus bermuara
Dalam satu jiwa
Aroma tak sambut sukma
Mengejar hunian dalam gunung
Mencerca sahabat pagi
Terkadang kumpulan awan terkepal kau telan
Kelambu kesiangan tak memental
Jar, fajar di dalam embun
Kuseduh tiap malam dalam titikan air rasa
Kejamnya ku cari
Manisnya ku belai
Jeritan alang-alang dan rembulan
Di padang cahaya kalem
Hentakan terkuak tak lewat rongga dada
Hanya jiwa yang tahu nestapa
Bertandur, seraya gila dalam kegilaan
Menghitung beberapa kelenjar amarah yang aku punya
Bagai badai yang memberontak
Petir yang menjerit menyilaukan mata
Dan, guntur yang tak ragu menggetarkan detak jantung
Aku musnah,
Bagai pelita tersiram embun
Jika kau sadar betapa aku rapuh
Melambai ke dalam parit tak berkesudah
Yang, tak terhitung sudah diinjak
Melangkah ke jalan tanpa jejak
Berselimut juntaian benang karma
Melilit, rajut takdir yang kuhela
Sampai jumpa, dunia
Hingga semuanya harus bermuara
Dalam satu jiwa