Hari ini bukannya aku ingin menulis, hanya saja tanganku sangat gatal untuk mengetuk tuts keyboard laptop yang ada di hadapanku. Namun entah apa yang akan aku tulis, apakah puisi, sebuah cerita, curahan hati, ataukah omong kosong. Yang jelas, aku ingin menulis.
Karena aku mulai membahas tentang menulis, biarkan aku mengutarakan alasannya.
Pada awalnya aku membaca, lama kelamaan membaca itu menjadi hobi. Mulai dari tulisan dengan gambar atau komik, hingga novel yang hanya berbekal kata membentuk dunia. Sayangnya buku-buku ilmiah sangat jarang aku baca, karena aku lebih suka berimajinasi ketika membaca, sedangkan tulisan ilmiah kurang lebih membahas aturan atau sistem yang ada di kenyataan, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang aku usahakan untuk aku hindari sebisa mungkin. Dan dari hobi membaca tersebut aku melihat untaian kalimat-kalimat yang indah yang mempesonaku. Maka aku mencoba membuat kalimat-kalimatku sendiri, untaianku sendiri, yang berasal dari imaji dan aturan dalam hayalku. Lahirlah puisi tanpa makna bagi orang lain yang membaca, walaupun ketika aku menuliskannya bayangan dan aturan serta cerita yang aku buat, telah aku wakilkan kepada setiap kata tersebut.
Menurutku puisi dapat mewakilkan berbagai suasana dan pikiran dalam beberapa kata, yang mana pembacanya akan punya tafsiran mereka sendiri ketika mereka membaca setiap kata dalam kalimat yang tertulis. Sekian lama aku menguntai puisi, sampai aku sisihkan buku khusus untuk menulis yang aku ingini dan gambar yang aku khayalkan setiap kali aku membeli satu bundel buku tulis, aku beri julukan buku tersebut dengan buku corat-coret. Isinya berbagai rupa coretan, entah coretanku sendiri atau coretan temanku yang sedang iseng juga ingin menulis. Mulanya setiap halaman dari buku itu aku tulis puisi satu halaman. Mungkin aku menjadikannya semacam tantangan menyenangkan bagi diriku sendiri untuk bisa menulis puisi satu halaman penuh. Selain itu aku juga menyukai puisi yang berima sama setiap empat baris. Seperti contoh :
kendaraanmu melaju kencang
jangankan melihat apa yang kau terjang
bahkan jika ada kucing terbang
apa saja akan kau tantang
aku yang ada di sisi
hanya sedetik melihatmu menari
di atas aspal hitam dan sinar mentari
gemuruh menemani tanpa ada yang menyanyi