Laman

Jumat, 25 Desember 2020

Hanya sekilas

bunga merah di bawah cahaya rembulan

cahaya yang terpantul sangatlah sendu

menyematkan keindahan di keramaian malam

putri rembulan menengokkan pandangannya

menyapu padang tanah bersama angin

bergerak ke utara, maka ikutlah ia

bergerak ke barat, ikut juga ia

bunga merah di belantara hitam

di situlah ia terhenti

menyanjung sejenak dalam hati

mengabadikan indahnya bunga di bawah cahaya

tersentuhlah ia

terenyuh juga ia,

tak lagi hinggap pandangnya

bunga merah di bawah cahaya rembulan

hanya bulan yang sanggup memendarkan warnanya.

Kamis, 16 Juli 2020

Tulisan

Hari ini bukannya aku ingin menulis, hanya saja tanganku sangat gatal untuk mengetuk tuts keyboard laptop yang ada di hadapanku. Namun entah apa yang akan aku tulis, apakah puisi, sebuah cerita, curahan hati, ataukah omong kosong. Yang jelas, aku ingin menulis.

Karena aku mulai membahas tentang menulis, biarkan aku mengutarakan alasannya. 

Pada awalnya aku membaca, lama kelamaan membaca itu menjadi hobi. Mulai dari tulisan dengan gambar atau komik, hingga novel yang hanya berbekal kata membentuk dunia. Sayangnya buku-buku ilmiah sangat jarang aku baca, karena aku lebih suka berimajinasi ketika membaca, sedangkan tulisan ilmiah kurang lebih membahas aturan atau sistem yang ada di kenyataan, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang aku usahakan untuk aku hindari sebisa mungkin. Dan dari hobi membaca tersebut aku melihat untaian kalimat-kalimat yang indah yang mempesonaku. Maka aku mencoba membuat kalimat-kalimatku sendiri, untaianku sendiri, yang berasal dari imaji dan aturan dalam hayalku. Lahirlah puisi tanpa makna bagi orang lain yang membaca, walaupun ketika aku menuliskannya bayangan dan aturan serta cerita yang aku buat, telah aku wakilkan kepada setiap kata tersebut. 

Menurutku puisi dapat mewakilkan berbagai suasana dan pikiran dalam beberapa kata, yang mana pembacanya akan punya tafsiran mereka sendiri ketika mereka membaca setiap kata dalam kalimat yang tertulis. Sekian lama aku menguntai puisi, sampai aku sisihkan buku khusus untuk menulis yang aku ingini dan gambar yang aku khayalkan setiap kali aku membeli satu bundel buku tulis, aku beri julukan buku tersebut dengan buku corat-coret. Isinya berbagai rupa coretan, entah coretanku sendiri atau coretan temanku yang sedang iseng juga ingin menulis. Mulanya setiap halaman dari buku itu aku tulis puisi satu halaman. Mungkin aku menjadikannya semacam tantangan menyenangkan bagi diriku sendiri untuk bisa menulis puisi satu halaman penuh. Selain itu aku juga menyukai puisi yang berima sama setiap empat baris. Seperti contoh :

kendaraanmu melaju kencang
jangankan melihat apa yang kau terjang
bahkan jika ada kucing terbang
apa saja akan kau tantang

aku yang ada di sisi
hanya sedetik melihatmu menari
di atas aspal hitam dan sinar mentari
gemuruh menemani tanpa ada yang menyanyi

Senin, 25 Mei 2020

Singgah

     Seorang anak kecil, berbaju lusuh dan agak kumal berkat pekatnya debu yang menempel di wajahnya. Duduk dibawah atap gedung tua di ujung jalan. Tampaknya seperti bekas terbakar, dan kejadiannya pun sudah bertahun berlalu. Di atas undak-undakan tangga teratas dia mengistirahatkan kakinya. Beristirahat dari sinar panas matahari siang. Jika ingin diungkapkan, maka anak itu terlihat seperti mencari sesuatu. Matanya terlihat memandang ke depan, walau sesekali dia menengok, mengamati sekilas benda-benda di sekelilingnya atau kejadian-kejadian. Tubuh-tubuh pun berlalu lalang di hadapannya, tak menanyakan apa-apa. Dia tak menarik perhatian, dan tak seorang tubuh pun yang mau membagi waktunya.
     Anak kecil itu mengusap keringatnya yang bercampur dengan asap dan polusi dari tapak yang menjejak di jalan. Tak terburu-buru, secara perlahan. Tak terburu berkejaran dengan waktu. Seperti tubuh-tubuh yang melewatinya. Waktu pun hanya melintas dengan diam tanpa melihatnya. Mungkin itulah kekuatan terbesar anak kecil itu. Dia miliknya sendiri, sebelum seseorang menaruh pandangan padanya.
     Gedung tua itu tidak sepi, karena banyak yang menemaninya. Banyak pedagang menyandarkan dagangannya di tubuh gedung tua itu. Tak banyak, hanya lima sampai empat pedagang. Jumlah yang cukup untuk mengusir kesepian, namun tak juga mengundang kebingaran. Hanya beberapa pembeli yang dari waktu ke waktu mampir membelanjakan uangnya. Tak ramai, cukup menghalangi sunyi untuk menghampiri. 
     Anak kecil itu menatapi benda-benda. Tatapan yang menegaskan apa yang dia tahu. Nampaknya dia sudah mengerti nama-namanya. Gerobak, baju, keringat, waktu, baju, celana, air, polusi, debu, mata, telinga, langkah, maju, henti, gelisah, perjalanan, tujuan. Mungkin anak kecil itu juga bertanya-tanya. Untuk apa dia hapal semua nama itu? Karena waktu pun tak tertarik padanya, maka nama-nama itu tak punya makna baginya.
     Helaan nafas yang entah keberapa. Anak kecil itu nampaknya sudah cukup mengisi istirahatnya. Tatapannya pun berubah. Gedung tua, pedagang, tubuh-tubuh, tak lagi berarti. Mengatur tenaga pada kakinya yang juga kecil. Anak kecil itu siap bertolak. Menerjang ruang yang dia tempati. Bersiap untuk mengikat takdir yang dia temui. Matanya seolah berbicara 'Matahari, mari berjuang lagi!'.

Rabu, 02 Mei 2018

Berbilang rasa
Aroma tak sambut sukma
Mengejar hunian dalam gunung
Mencerca sahabat pagi
Terkadang kumpulan awan terkepal kau telan
Kelambu kesiangan tak memental
Jar, fajar di dalam embun
Kuseduh tiap malam dalam titikan air rasa
Kejamnya ku cari
Manisnya ku belai
Jeritan alang-alang dan rembulan
Di padang cahaya kalem
Hentakan terkuak tak lewat rongga dada
Hanya jiwa yang tahu nestapa
Bertandur, seraya gila dalam kegilaan
Menghitung beberapa kelenjar amarah yang aku punya
Bagai badai yang memberontak
Petir yang menjerit menyilaukan mata
Dan, guntur yang tak ragu menggetarkan detak jantung
Aku musnah,
Bagai pelita tersiram embun
Jika kau sadar betapa aku rapuh
Melambai ke dalam parit tak berkesudah
Yang, tak terhitung sudah diinjak
Melangkah ke jalan tanpa jejak
Berselimut juntaian benang karma
Melilit, rajut takdir yang kuhela
Sampai jumpa, dunia
Hingga semuanya harus bermuara
Dalam satu jiwa

Sabtu, 10 November 2012

perangkap

cari aku di dalam gelembung
tercekal di dinding tipis transparan
menggeram pun tak berguna
sebas, yang pasti tak selalu ada

temukan aku melintasi malam
menunggang perahu yang tak selalu damai
aku mengukir selalu prasasti dambaan
menang, menangkan hatimu yang bercerita dalam diam

biarkan aku menguntai kenangan
yang hanya bisa ku tampilkan
dalam tempat yang pernah kau singgahi
walau aku tak pernah selalu di sampingmu

kau lihat aku
selalu berjalan di tanahmu
yang berisi jejak-jejakmu
sambil bertahan berkhayal melambungkan masa lalu

aku tahu, karena diammu
merupakan bahasa isyaratmu
dari yang tak terbahasakan
dan yang terlalu kau takutkan juga
sampai situ
dan aku tetap terperangkap di dinding yang bulat

Sabtu, 06 Oktober 2012

Mengharap pelipur

kata-kata yang berteriak di jendela
mencoba di himpun angin
tornado yang menyerakkan pasir-pasir
masih tetap utuh di ujung benua
sayangnya lumut-lumut tak tergoda
masih setia di batu mereka
sampai kata-kata itu menua tanpa usia
terompet itu sekali lagi mengibarkan debu-debu
menghunuskan pedang yang berganti bedil
pecahkan para pelopor
kaca itu kedap suara
dan juga kedap suasana
lajulah kereta kalahkan bendi
biar tak tenang dalam hati
tapi sanggup padamkan api-api
hari ini, entah di mana
semoga hati tetap emas.

Mari

waktu malam datang tanpa suara
meninggalkan derap langkah yang menerka
kapan saat itu akan tiba
menyesapkan wangi sedap malam
beranda itu seketika datang
sofa atau kursinya membuat godaan
malam-malam menanti nyawa meregang
saksikan itu.
sekejap itu.
semenakutkan itu.
tak ada kata yang merasainya
ketakutan itu tak terbayang
tancapkan hatimu sedalam mungkin
tercerabut paksa tak akan di rasa
mendambanya
memaknainya
seindah yang di sembuunyikannya
hidup indah ini,
bahkan mampu kau merelakannya.

Bangsri, Jepara. 10 Agustus 2012      21:15